Cerita dari masa ‘MOS’ by: V'lentine
Namaku Chantal. Aku murid
angkatan baru. Saat di Ospek, kakak-kakak kelasku sering bercerita seram
tentang sekolah kami ini. Seluruh murid
kelasku sangat serius mendengarkan termasuk aku. Dan cerita itu sering berakhir
dengan kisah seseorang yang terbawa ke alam gaib atau menghilang selamanya dari
sekolah. Bahkan ada yang juga menghantui sekolah kami ini karena tak ada yang
mau menolongnya saat ia ditangkap makhluk gaib itu. Cerita demi cerita itu
hanya karangan kakak-kakak kelas kami (kurasa) dan kuharap juga bukan
kenyataan. Karena cerita-cerita itu sangat janggal dan kemungkinan nyata pun
hanya sedikit.
Satu hari di
saat terakhir seperti biasa kakak kelasku menceritakan kembali kisah-kisah
seram itu. Namun untuk kisah kali ini diakhiri dengan sebuah kalimat yang cukup
mengesankan.
“Sang pemimpin
pasukan gaib dan para pengikutnya akan datang kembali tahun ini dan mencari
murid lain yang akan diculiknya.”
“Wow, keren.”
“Sereeeeeem.”
“Untukku itu
menakjubkan,” Itulah kata-kata yang kuungkapkan bersama teman-temanku ketika
cerita selesai. Atau mungkin itu kata-kata yang dapat diungkapkan saat baru
ceritanya saja yang kami ketahui.
Sudah satu semester aku belajar
di sekolah seramku ini dan kelihatannya belum terjadi sesuatu hal seperti yang
diceritakan kakak-kakak kelasku
itu. Yah, kelihatannya aku semakin yakin
kalau itu hanya karang-karangan kakak-kakak kelasku saja, dan tidak lain untuk
menambah keseruan acara Ospek. Ehm, kelihatannya untuk tahun depan aku akan
menceritakan hal yang sama pada murid angkatan baru tahun depan.
Oya, aku belum cerita. Aku
terpilih menjadi anggota OSIS melalui perjuangan yang cukup ketat saat kembali
di Ospek. Tapi bedanya Ospek kali ini di luar ruangan (Out-door) lebih lelah, tapi
tak ada cerita seram. Walau begitu tetap
saja aku terbayang-bayang cerita seram saat Ospek dengan kakak-kakak kelasku
itu.
Satu minggu dari hari Ospek OSIS,
kakak-kakak kelasku yang juga anggota OSIS mengajak seluruh anggota untuk uji
nyali di sekolah, katanya untuk memperkuat mental bila harus lembur mengerjakan
tugas OSIS di sekolah. Tidak semua anak ikut. Tentu saja. Hanya ada delapan
belas anak yang terhitung. Malam Jum’at jam 10 malam di depan ruang OSIS, kami
telah bersiap-siap setiap anak dibekali dua buah lilin dan satu kotak korek api
kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing beranggotakan sembilan orang. Kami
berkeliling sekolah terlebih dahulu mencari tempat yang cukup menyeramkan, kelompokku
memilih tempat di lantai tiga. Sedangkan Ka Yose dengan teman –teman yang lain
memilih tempat di lorong yang menuju ruang komputer.
Kami beruji nyali hingga matahari
terbit. sehingga kurang lebih 6 jam waktu yang harus kami habiskan dalam
kesunyian ini. Jam 11 tepat kami diperintahkan menyalakan lilin dan duduk di
tempat yang sudah dikatakan. Aku duduk di dekat lift. Menantikan pagi tiba dan
Sang mentari menampakan dirinya, yang akan menandakan uji nyali ini berakhir.
Aku duduk membeku memandang
sekitar. Kulihat Marsha sangat tegang menjalani uji ini, ia terus menatap api
lilin tanpa bergerak bahkan seperti tidak bernafas. Kulihat Andre, Bion, Tifani,
dan Soffie mereka terlihat tidak terlalu tegang. Bahkan Andre dan Bion sedang
asyik memainkan api lilin mereka. Tiga kakak kelas yang menemani kelompokku
sedang asyik bermain sesuatu dengan sebuah boneka. Mereka sering tertawa atau
termenung setelah boneka yang dipegangi Ka Joy bergerak-gerak perlahan.
Detik demi detik berlalu jarum
menit pun bergerak dengan cukup cepat. Tak terasa ternyata jarun pada jam
tanganku bergerak dengan baik. Kini sudah pukul 4 pagi dan belum terjadi hal
yang menyeramkan, namun sepertinya itu hanya pemikiranku karena sesaat setelah
menyadari telah pukul 4.
Terasa ada sesuatu menyentuh
punggungku. Sesuatu terasa dingin, beku. Dan berjari. Tangan…─ ya tangan ─ tangan
manusia. Segera akan kupukul bahuku sekuat tenaga tapi tubuhku tak dapat
bergerak. Dan sesaat aku merasakan dingin yang amat sangat, menjalari tubuhku.
Tangan, kaki, kepala, badan, dan perutku serasa membeku. Tak dapat
bergerak, membeku, dingin, seperti batu.
Aku ingin berteriak tapi sesuatu menahan mulutku. Baru kusadaritangan yang
memegang bahuku tadi telah merambat ke badanku memelukku dengan sangat erat.
Panas, sangat panas. Seperti api sedang membakar tubuhku. Tangan yang tadi
terasa membekukan itu kini berubah mebakar tubuhku. Atau mungkin ia berusaha
mengambil suhu tubuhku dan menganti dengan miliknya? Ia berusaha memasuki
ragaku! Aku masih berusaha keluar dari situasi itu ketika suara yang sangat
kencang mengagetkanku.
“Bangun semua! Udah pagi! Bawa
lilin kalian dan koreknya kita ke lorong komputer!”
Ternyata aku
tertidur! Aku tak menyangka! Padahal beberapa detik yang lalu baru saja
kurasakan dingin dan panas yang sangat menyiksa dan, begitu nyata. Kurasa
seharusnya ini masih pukul 4 kurang lebih. Namun kini telah pukul 5.15, sungguh
aneh.
“Chantal, ayo
cepat jangan hanya diam di situ saja! Kamu ingin ditinggal?”
“Ah, iya ka
maaf.”
Kami tak ingin
mengingat-ingat kejadian hari itu. Setiap ada yang bertanya pun kami hanya
tersenyum dan menghindari percakapan apapun mengenai uji nyali itu.
Tak terasa 1 bulan telah berlalu dari hari itu. Tidak ada
masalah berbahaya lainnya yang terjadi. Letna dapat bersekolah seperti
sebelumnya, hanya saja sekarang ia dapat melihat sesuatu yang tak dapat kami mengerti.
Mungkin kejadian waktu itu membuatnya mendapat pengelihatan. Ia menjadi lebih
sensitif. Tapi tidak begitu parah.
Ada acara Imlek dan Valentine di
sekolahku yang akan dilaksanakan pada dua hari berturut-turut. Inilah yang akan
menjadi hari-hari melelahkan bagi anggota OSIS. Dari mulai pembuatan panggung,
menghiasnya, permainan, dan acara yang akan dilaksanakan. Kami bekerja dengan
sungguh-sungguh dan tak terasa hari yang telah dinanti dengan segenap persiapan
pun tiba. Seluruhnya berjalan dengan lancar. Acara berjalan dengan baik. Walau
ada sedikit perputaran acara, karena pengisi acara tersebut kurang siap saat ia
akan tampil. Tapi selebihnya tidak ada masalah besar yang merusak acara.
Selesai acara, kembali seperti sebelumnya anak anggota OSIS dibantu beberapa
murid yang belum dijemput, para guru dan karyawan yang bertugas membersihkan
sisa pertunjukan.
Tak terasa hari pun telah menjadi
gelap. Baru saja kami selesai beres-beres jam ditanganku sudah menunjukan pukul
9.30 malam.
“Wah...cape.
Istirahat dulu, yuk.”
“Boleh—Eh Chan
ambil konsumsinya di post luar, ya.”
“Ok, Ka bentar
ya.”
Aku pun menuju
post satpam yang berada di luar area sekolah. Aku menuju tempat parkir dan
segera menuju post yang dimaksud. Heran juga kenapa konsumsi tidak diantar ke
sekolah. Tapi tak apa, lah. Setelah mengambil sekantong keresek yang cukup
besar, aku berpamitan pada bapa penjaga post dan segera kembali ke sekolah.
Ketika aku
kembali masuk ke area sekolah dan sedang berjalan menuju tangga yang ada di
seberang lapangan, suatu pikiran yang tidak baik memasuki organ-organ kepalaku,
langit berubah menjadi gelap bahkan sangat gelap. Dan saat kulihat jam
tanganku, jarumnya telah menunjukan jam 10 tepat. Seram berada di lapangan
sendirian dan melihat sekolah yang sudah sepi, dengan ketakutan aku segera
berlari menghampiri tangga menuju lantai 2. Namun sesaat aku rasakan ada yang
mengikutiku. Kuhentikan langkahku dan kutengok. Bersamaan dengan perasaan
ganjil yang menyelubungi sekitarku.
Sekejap kulihat
seorang anak perempuan berlari menerobos diriku dengan kencang. Ia terlihat
sedang dikejar – kejar sesuatu. Sangat ganjil. Baru saja aku berlari dari
lapangan untuk menuju tangga ini dan tidak merasakan tanda-tanda adanya
teman-temanku di lantai bawah. Tiba-tiba seorang anak yang kelihatannya bukan
dari sekolahku ini berlari dari tempat yang sama saat aku berlari tadi.
Ditambah ia seperti sedang bermain kejar-kejaran. Namun dimana teman yang
mengejar dirinya? Sejenak aku tak mendengar suara apa pun. Pengelihatanku pun
terasa menghilang. Gelap... Sunyi... Sampai...—oh tidak! Aku dapat melihat
siapa pengejar anak itu. Segerombolan makhluk gaib! Jumlahnya sangat banyak,
dan mereka berdatangan dari seluruh penjuru. Menaiki tangga dan menuju
kearahku. Aku tak dapat berfikir jernih lagi. Makanan yang tadi harusnya
kubawa, hilang entah kemana. Dengan tenaga yang sudah tinggal sedikit aku
segera menaiki tangga menuju lantai dua. Aku beristirahat sebentar mengatur
nafasku. Kulihat anak perempuan yang tadi berlari mendahuluiku ada di depanku
dan kelihatannya ia juga sedang beristirahat. Namun saat kupanggil ia kembali
berlari menaiki tangga. Dan aku sadar akan alasannya. Lebih banyak lagi makhluk
gaib menuju kearahku dan hampir menyelubungiku. Aku terus berupaya berlari,
ketika menyadari sudah tidak ada jalan lagi bagiku untuk lari. Para makhluk itu
telah menyebar di segala tempat dan ruangan sekolahku. Para makhluk itu datang
dari seluruh sisi kanan, kiri, bawah,
belakang, dan juga dari lantai atas. Aku
terkepung. Mereka berdatangan dari kelas-kelas, Ruang serba guna, dari setiap
tembok. Sangat menyeramkan. Aku tak dapat bergerak, tak tahu cara menyelamatkan
diri, tubuhku terasa membeku ditempat aku berdiri sekarang ini. Aku hanya dapat
pasrah kapan pun waktunya mereka menyergapku...
“Hhhhhhhati-hhhhhhhhatti
ahhhkan temhhhat iniiiiiiihhh. Cephhhhat pergiiiiiiii... Takhhh ada keselamatan
ke dua. Gunakanlahhhhh sisa hhhhidupmu dengan bahhhhhhhik.....,” suara itu
seperti hembusan angin dingin di telinga kiriku.Setelah mengatakan itu ia
mencengkeram bahuku dan mendorongku dengan kuat menerobos teman-temanku yang
ada di dalam Ruang OSIS terus didorong hingga.......
Treeeeeeeng.................
Bel pulang
sekolah membangunkanku. Ternyata sedari tadi aku tertidur dan bermimpi. Mimpi
yang seram. Kucoba ingat kembali mimpi apa itu? Apa artinya? Tapi tak ada
penjelasan.
Kurasakan
bahuku panas tapi tidak membakar. Kurasakan pundakku hangat, hangat yang
nyaman. Terasa ada tangan yang terus memegangi pundakku. Walau tak ada siapapun
dibelakangku yang hanya tembok. Kelas mulai sepi semua anak telah keluar.
Tinggalah aku sendiri dalam kelasku ini. Kubuka bajuku dan kedekatkan diriku
pada papan tulis yang ada di depan kelas. Kubalikan tubuhku hingga punggungku
yang menghadap papan tulis. Kutengok papan tulis itu memantulkan bayangan
punggungku yang telihat merah dengan jipakan telapak tangan. Suatu hal yang
sangat mencurigakan. Namun biarkan sajalah aku tak mau pusing sudah terlalu
banyak hal yang kupikirkan. Kukenakan bajuku dan segera menuju kursiku yang ada
di deretan paling belakang untuk mengambi tas. Sekelebat bayangan kulihat
berdiri di dekat lemari yang ada di belakang Ruang kelasku yang berada tidak
jauh dari kursiku. Ia mengangkat tangannya. Kuhentikan langkahku dan melangkah
menghampirinya. Sambil berjalan kuperhatikan wajahnya, kupastikan pakaiannya.
Sama. Sangat serupa dengan anak perempuan yang kujumpai ditangga itu. Aku masih
bingung itu mimpi atau nyata. Tapi yang harus kupikirkan sekarang apa yang anak
itu ulurkan padaku? Ia menunduk dan terus berdiam membatu disamping lemari.
Kupastikan ia memang bermaksud padaku. Kudekati dia dan kuulurkan tanganku. Ia
meminta membuka kepalan tanganku. Ia menaruh suatu benda yang sepertinya sejak
tadi digenggamnya.
Sebuah batu
pipih tak beraturan yang diikatkan pada seutas tali yang terlihat rapuh namun
kokoh. Kalung. Ia menaruhnya ditanganku dan perlahan dari kakinya ia menghilang
tertiup angin seperti debu. Kugenggam kalung pemberiannya dan segera aku
pulang.
Berjam-jam aku kurung diriku
dalam kamar. Terus kuperhatikan kalung yang tadi siang kudapatkan dari anak
perempuan itu. Batunya sama sekali tidak rata. Berdekok di segala sisi hanya
diikatkan pada tali yang sepertinya dulu berwarna putih namun kini telah kusam.
Hal menarik dari batu ini ada pada bagian pipih pada batu tersebut. Aku dapat
melihat sebuah nama terukir di sana. Wendy . Nama
yang unik. Sayangnya aku tak pernah mengetahui keberadaan nama itu di
sekitarku.
Satu tahun
berlalu..
Kini aku telah
mengerti bahwa memang banyak makhluk yang menjaga sekolahku ini. Namun hingga
kini aku tidak lagi memiliki kisah bersama mereka. Hanya satu kisah itu yang
hingga kini masih kupertanyakan keberadaannya. Omong-omong kalung pemberian
anak perempuan itu masih kukenakan. Tentu sudah jelas bukan tali aslinya yang
kugunakan. Takut kalau-kalau rusak kan sayang. Kuatambahkan rantai besi kecil
sebagai ganti tali kalung itu. Tali lamanya kugulung dan kuikat pada batu.
Walau tak ada kejadian aneh dan seram yang menimpaku lagi selama ini, tetap
saja kejadin waktu itu tak dapat hilang. Ditambah kini aku memiliki
penglihatan. Aku sangat ingin bertanya seluruh hal tentang sekolah ini namun
sayangnya setiap aku siap bertanya mulutku terasa tersumpal dan yang keluar
hanya erangan. Rahasia masih tetap menjadi rahasia dan masih belum dapat
terungkap. Entah hingga kapan. Namun sepertinya aku akan membagikan rahasia ini
pada murid ajaran baru nanti saat Ospek…
Inspiration: My Dream :D





