Minggu, 15 Juni 2014

>_< ini post pertama..... semoga banyak yang suka.... bagi sarannya ya.... :D



Cerita dari masa ‘MOS’ by: V'lentine

Namaku Chantal. Aku murid angkatan baru. Saat di Ospek, kakak-kakak kelasku sering bercerita seram tentang sekolah kami  ini. Seluruh murid kelasku sangat serius mendengarkan termasuk aku. Dan cerita itu sering berakhir dengan kisah seseorang yang terbawa ke alam gaib atau menghilang selamanya dari sekolah. Bahkan ada yang juga menghantui sekolah kami ini karena tak ada yang mau menolongnya saat ia ditangkap makhluk gaib itu. Cerita demi cerita itu hanya karangan kakak-kakak kelas kami (kurasa) dan kuharap juga bukan kenyataan. Karena cerita-cerita itu sangat janggal dan kemungkinan nyata pun hanya sedikit.
          Satu hari di saat terakhir seperti biasa kakak kelasku menceritakan kembali kisah-kisah seram itu. Namun untuk kisah kali ini diakhiri dengan sebuah kalimat yang cukup mengesankan.
          “Sang pemimpin pasukan gaib dan para pengikutnya akan datang kembali tahun ini dan mencari murid lain yang akan diculiknya.”

          “Wow, keren.”
          “Sereeeeeem.”
          “Untukku itu menakjubkan,” Itulah kata-kata yang kuungkapkan bersama teman-temanku ketika cerita selesai. Atau mungkin itu kata-kata yang dapat diungkapkan saat baru ceritanya saja yang kami ketahui.
Sudah satu semester aku belajar di sekolah seramku ini dan kelihatannya belum terjadi sesuatu hal seperti yang diceritakan  kakak-kakak kelasku itu.  Yah, kelihatannya aku semakin yakin kalau itu hanya karang-karangan kakak-kakak kelasku saja, dan tidak lain untuk menambah keseruan acara Ospek. Ehm, kelihatannya untuk tahun depan aku akan menceritakan hal yang sama pada murid angkatan baru tahun depan.
Oya, aku belum cerita. Aku terpilih menjadi anggota OSIS melalui perjuangan yang cukup ketat saat kembali di Ospek. Tapi bedanya Ospek kali ini di luar ruangan (Out-door) lebih lelah, tapi tak ada cerita seram. Walau begitu  tetap saja aku terbayang-bayang cerita seram saat Ospek dengan kakak-kakak kelasku itu.
Satu minggu dari hari Ospek OSIS, kakak-kakak kelasku yang juga anggota OSIS mengajak seluruh anggota untuk uji nyali di sekolah, katanya untuk memperkuat mental bila harus lembur mengerjakan tugas OSIS di sekolah. Tidak semua anak ikut. Tentu saja. Hanya ada delapan belas anak yang terhitung. Malam Jum’at jam 10 malam di depan ruang OSIS, kami telah bersiap-siap setiap anak dibekali dua buah lilin dan satu kotak korek api kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing beranggotakan sembilan orang. Kami berkeliling sekolah terlebih dahulu mencari tempat yang cukup menyeramkan, kelompokku memilih tempat di lantai tiga. Sedangkan Ka Yose dengan teman –teman yang lain memilih tempat di lorong yang menuju ruang komputer.
Kami beruji nyali hingga matahari terbit. sehingga kurang lebih 6 jam waktu yang harus kami habiskan dalam kesunyian ini. Jam 11 tepat kami diperintahkan menyalakan lilin dan duduk di tempat yang sudah dikatakan. Aku duduk di dekat lift. Menantikan pagi tiba dan Sang mentari menampakan dirinya, yang akan menandakan uji nyali ini berakhir.
Aku duduk membeku memandang sekitar. Kulihat Marsha sangat tegang menjalani uji ini, ia terus menatap api lilin tanpa bergerak bahkan seperti tidak bernafas. Kulihat Andre, Bion, Tifani, dan Soffie mereka terlihat tidak terlalu tegang. Bahkan Andre dan Bion sedang asyik memainkan api lilin mereka. Tiga kakak kelas yang menemani kelompokku sedang asyik bermain sesuatu dengan sebuah boneka. Mereka sering tertawa atau termenung setelah boneka yang dipegangi Ka Joy bergerak-gerak perlahan.
Detik demi detik berlalu jarum menit pun bergerak dengan cukup cepat. Tak terasa ternyata jarun pada jam tanganku bergerak dengan baik. Kini sudah pukul 4 pagi dan belum terjadi hal yang menyeramkan, namun sepertinya itu hanya pemikiranku karena sesaat setelah menyadari telah pukul 4.
Terasa ada sesuatu menyentuh punggungku. Sesuatu terasa dingin, beku. Dan berjari. Tangan…─ ya tangan ─ tangan manusia. Segera akan kupukul bahuku sekuat tenaga tapi tubuhku tak dapat bergerak. Dan sesaat aku merasakan dingin yang amat sangat, menjalari tubuhku. Tangan, kaki, kepala, badan, dan perutku serasa membeku. Tak dapat bergerak,  membeku, dingin, seperti batu. Aku ingin berteriak tapi sesuatu menahan mulutku. Baru kusadaritangan yang memegang bahuku tadi telah merambat ke badanku memelukku dengan sangat erat. Panas, sangat panas. Seperti api sedang membakar tubuhku. Tangan yang tadi terasa membekukan itu kini berubah mebakar tubuhku. Atau mungkin ia berusaha mengambil suhu tubuhku dan menganti dengan miliknya? Ia berusaha memasuki ragaku! Aku masih berusaha keluar dari situasi itu ketika suara yang sangat kencang mengagetkanku.
“Bangun semua! Udah pagi! Bawa lilin kalian dan koreknya kita ke lorong komputer!”
          Ternyata aku tertidur! Aku tak menyangka! Padahal beberapa detik yang lalu baru saja kurasakan dingin dan panas yang sangat menyiksa dan, begitu nyata. Kurasa seharusnya ini masih pukul 4 kurang lebih. Namun kini telah pukul 5.15, sungguh aneh.
          “Chantal, ayo cepat jangan hanya diam di situ saja! Kamu ingin ditinggal?”
          “Ah, iya ka maaf.”
         
Bersama teman yang lain aku berlarian menuju ruang computer yang ada di lantai dua. Ternyata Letna yang berteriak tadi. Hingga kini ia masih berteriak tak karuan. Suaranya pun berbeda. Ia kesurupan! Ka Gwen segera membacakan doa mengalungkan sesuatu pada leher Letna. Syukurlah tak lama Letna terkulai lemah di pangkuan Ka Nanda. Ka Mirna dan Ka Ratna segera berlari ke pintu gerbang untuk membuka pintu yang tak dijaga itu. Ka Nanda segera membopoh Letna keluar dari sekolah. Ka Joy dan Ka Yose segera mambawa kami per kelompok menuju pintu gerbang. Sedangkan Ka Rafi segera mengecek kembali tempat-tempat yang kami pakai memastikan tidak ada barang tertinggal yang mencurigakan. Setelah selesai Ka Rafi segera berlari mengejar kami. Kami pun segera keluar dari halaman sekolah dan pulang ke rumah masing-masing dengan segera.
          Kami tak ingin mengingat-ingat kejadian hari itu. Setiap ada yang bertanya pun kami hanya tersenyum dan menghindari percakapan apapun mengenai uji nyali itu.
Tak terasa 1 bulan telah berlalu dari hari itu. Tidak ada masalah berbahaya lainnya yang terjadi. Letna dapat bersekolah seperti sebelumnya, hanya saja sekarang ia dapat melihat sesuatu yang tak dapat kami mengerti. Mungkin kejadian waktu itu membuatnya mendapat pengelihatan. Ia menjadi lebih sensitif. Tapi tidak begitu parah.
Ada acara Imlek dan Valentine di sekolahku yang akan dilaksanakan pada dua hari berturut-turut. Inilah yang akan menjadi hari-hari melelahkan bagi anggota OSIS. Dari mulai pembuatan panggung, menghiasnya, permainan, dan acara yang akan dilaksanakan. Kami bekerja dengan sungguh-sungguh dan tak terasa hari yang telah dinanti dengan segenap persiapan pun tiba. Seluruhnya berjalan dengan lancar. Acara berjalan dengan baik. Walau ada sedikit perputaran acara, karena pengisi acara tersebut kurang siap saat ia akan tampil. Tapi selebihnya tidak ada masalah besar yang merusak acara. Selesai acara, kembali seperti sebelumnya anak anggota OSIS dibantu beberapa murid yang belum dijemput, para guru dan karyawan yang bertugas membersihkan sisa pertunjukan.
Tak terasa hari pun telah menjadi gelap. Baru saja kami selesai beres-beres jam ditanganku sudah menunjukan pukul 9.30 malam.
          “Wah...cape. Istirahat dulu, yuk.”
          “Boleh—Eh Chan ambil konsumsinya di post luar, ya.”
          “Ok, Ka bentar ya.”
          Aku pun menuju post satpam yang berada di luar area sekolah. Aku menuju tempat parkir dan segera menuju post yang dimaksud. Heran juga kenapa konsumsi tidak diantar ke sekolah. Tapi tak apa, lah. Setelah mengambil sekantong keresek yang cukup besar, aku berpamitan pada bapa penjaga post dan segera  kembali ke sekolah.

          Ketika aku kembali masuk ke area sekolah dan sedang berjalan menuju tangga yang ada di seberang lapangan, suatu pikiran yang tidak baik memasuki organ-organ kepalaku, langit berubah menjadi gelap bahkan sangat gelap. Dan saat kulihat jam tanganku, jarumnya telah menunjukan jam 10 tepat. Seram berada di lapangan sendirian dan melihat sekolah yang sudah sepi, dengan ketakutan aku segera berlari menghampiri tangga menuju lantai 2. Namun sesaat aku rasakan ada yang mengikutiku. Kuhentikan langkahku dan kutengok. Bersamaan dengan perasaan ganjil yang menyelubungi sekitarku.
          Sekejap kulihat seorang anak perempuan berlari menerobos diriku dengan kencang. Ia terlihat sedang dikejar – kejar sesuatu. Sangat ganjil. Baru saja aku berlari dari lapangan untuk menuju tangga ini dan tidak merasakan tanda-tanda adanya teman-temanku di lantai bawah. Tiba-tiba seorang anak yang kelihatannya bukan dari sekolahku ini berlari dari tempat yang sama saat aku berlari tadi. Ditambah ia seperti sedang bermain kejar-kejaran. Namun dimana teman yang mengejar dirinya? Sejenak aku tak mendengar suara apa pun. Pengelihatanku pun terasa menghilang. Gelap... Sunyi... Sampai...—oh tidak! Aku dapat melihat siapa pengejar anak itu. Segerombolan makhluk gaib! Jumlahnya sangat banyak, dan mereka berdatangan dari seluruh penjuru. Menaiki tangga dan menuju kearahku. Aku tak dapat berfikir jernih lagi. Makanan yang tadi harusnya kubawa, hilang entah kemana. Dengan tenaga yang sudah tinggal sedikit aku segera menaiki tangga menuju lantai dua. Aku beristirahat sebentar mengatur nafasku. Kulihat anak perempuan yang tadi berlari mendahuluiku ada di depanku dan kelihatannya ia juga sedang beristirahat. Namun saat kupanggil ia kembali berlari menaiki tangga. Dan aku sadar akan alasannya. Lebih banyak lagi makhluk gaib menuju kearahku dan hampir menyelubungiku. Aku terus berupaya berlari, ketika menyadari sudah tidak ada jalan lagi bagiku untuk lari. Para makhluk itu telah menyebar di segala tempat dan ruangan sekolahku. Para makhluk itu datang dari seluruh sisi kanan, kiri, bawah,
belakang, dan juga dari lantai atas. Aku terkepung. Mereka berdatangan dari kelas-kelas, Ruang serba guna, dari setiap tembok. Sangat menyeramkan. Aku tak dapat bergerak, tak tahu cara menyelamatkan diri, tubuhku terasa membeku ditempat aku berdiri sekarang ini. Aku hanya dapat pasrah kapan pun waktunya mereka menyergapku...
   
           “Chantal! Cepat kesini! Mereka ngga akan bisa menangkap kita disini. Ayo cepat lari!” terdengar suara yang tak asing bagiku. Aku segera mencari sumbernya. Ternyata ka Rafi memanggilku bersama teman-teman lain dan menggupaikan tangannya. Mencoba memberitahuku jalan menyelamatkan diri. Namun saat ini jalan terdekat menuju Ruang OSIS telah tertutup para makhluk dan aku tak akan mengambil resiko menerobos mereka. Otakku sudah beku seperti terikat tali tebal. Sangat sulit untuk bekerja. Namun tubuhku bergerak degan sendirinya tanpa pengendalian dariku. Aku memanjat tembok, meloncat hingga berada di pinggir atap lantai tiga, hampir jatuh. Aku terus berjalan, meloncat, dan seperti tidak merasa takut atau pun ragu aku melangkah di sepanjang tembok teras lantai tiga. Dan ketika aku tersadar aku sedang bergelantungan di atap depan Ruang OSIS. Hanya sedikit saja jarak menuju Ruang OSIS. Aku harus meloncat ke lantai dua dengan bergelantungan. Hanya sedikit jarak yang aku hadapi. Namun tantangan maut dan nyawalah taruhannya. Dari arah tangga menuju lantai tiga yang tadinya akan kunaiki telah banyak makhluk yang berbalik menujuku. Dari atap pun ada banyak makhluk yang siap menarikku. Dari lorong kiri dan kanan lantai dua yang menuju Ruang OSIS juga telah banyak makhluk menantikan nyawaku. Aku melanjutkan rasa pasrahku dan terus bergelantungan di atap itu. Keberanianku menciut bahkan hilang. Aku ingin berteriak, namun tenggorokanku seperti tersendat batu. Dalam keadaan genting ini kembali kurasakan rasa dingin yang sama saat aku pertama kali diam di lantai tiga. Rasa tangan dingin yang memegang pundakku. Dan kali ini kurasakan ada dua telapak tangan memegangi kedua pundakku. Dan kudengar suara lirih.

          “Hhhhhhhati-hhhhhhhhatti ahhhkan temhhhat iniiiiiiihhh. Cephhhhat pergiiiiiiii... Takhhh ada keselamatan ke dua. Gunakanlahhhhh sisa hhhhidupmu dengan bahhhhhhhik.....,” suara itu seperti hembusan angin dingin di telinga kiriku.Setelah mengatakan itu ia mencengkeram bahuku dan mendorongku dengan kuat menerobos teman-temanku yang ada di dalam Ruang OSIS terus didorong hingga.......
          Treeeeeeeng.................
          Bel pulang sekolah membangunkanku. Ternyata sedari tadi aku tertidur dan bermimpi. Mimpi yang seram. Kucoba ingat kembali mimpi apa itu? Apa artinya? Tapi tak ada penjelasan.
          Kurasakan bahuku panas tapi tidak membakar. Kurasakan pundakku hangat, hangat yang nyaman. Terasa ada tangan yang terus memegangi pundakku. Walau tak ada siapapun dibelakangku yang hanya tembok. Kelas mulai sepi semua anak telah keluar. Tinggalah aku sendiri dalam kelasku ini. Kubuka bajuku dan kedekatkan diriku pada papan tulis yang ada di depan kelas. Kubalikan tubuhku hingga punggungku yang menghadap papan tulis. Kutengok papan tulis itu memantulkan bayangan punggungku yang telihat merah dengan jipakan telapak tangan. Suatu hal yang sangat mencurigakan. Namun biarkan sajalah aku tak mau pusing sudah terlalu banyak hal yang kupikirkan. Kukenakan bajuku dan segera menuju kursiku yang ada di deretan paling belakang untuk mengambi tas. Sekelebat bayangan kulihat berdiri di dekat lemari yang ada di belakang Ruang kelasku yang berada tidak jauh dari kursiku. Ia mengangkat tangannya. Kuhentikan langkahku dan melangkah menghampirinya. Sambil berjalan kuperhatikan wajahnya, kupastikan pakaiannya. Sama. Sangat serupa dengan anak perempuan yang kujumpai ditangga itu. Aku masih bingung itu mimpi atau nyata. Tapi yang harus kupikirkan sekarang apa yang anak itu ulurkan padaku? Ia menunduk dan terus berdiam membatu disamping lemari. Kupastikan ia memang bermaksud padaku. Kudekati dia dan kuulurkan tanganku. Ia meminta membuka kepalan tanganku. Ia menaruh suatu benda yang sepertinya sejak tadi digenggamnya.
          Sebuah batu pipih tak beraturan yang diikatkan pada seutas tali yang terlihat rapuh namun kokoh. Kalung. Ia menaruhnya ditanganku dan perlahan dari kakinya ia menghilang tertiup angin seperti debu. Kugenggam kalung pemberiannya dan segera aku pulang.
Berjam-jam aku kurung diriku dalam kamar. Terus kuperhatikan kalung yang tadi siang kudapatkan dari anak perempuan itu. Batunya sama sekali tidak rata. Berdekok di segala sisi hanya diikatkan pada tali yang sepertinya dulu berwarna putih namun kini telah kusam. Hal menarik dari batu ini ada pada bagian pipih pada batu tersebut. Aku dapat melihat sebuah nama terukir di sana. Wendy . Nama yang unik. Sayangnya aku tak pernah mengetahui keberadaan nama itu di sekitarku.
          Satu tahun berlalu..
          Kini aku telah mengerti bahwa memang banyak makhluk yang menjaga sekolahku ini. Namun hingga kini aku tidak lagi memiliki kisah bersama mereka. Hanya satu kisah itu yang hingga kini masih kupertanyakan keberadaannya. Omong-omong kalung pemberian anak perempuan itu masih kukenakan. Tentu sudah jelas bukan tali aslinya yang kugunakan. Takut kalau-kalau rusak kan sayang. Kuatambahkan rantai besi kecil sebagai ganti tali kalung itu. Tali lamanya kugulung dan kuikat pada batu. Walau tak ada kejadian aneh dan seram yang menimpaku lagi selama ini, tetap saja kejadin waktu itu tak dapat hilang. Ditambah kini aku memiliki penglihatan. Aku sangat ingin bertanya seluruh hal tentang sekolah ini namun sayangnya setiap aku siap bertanya mulutku terasa tersumpal dan yang keluar hanya erangan. Rahasia masih tetap menjadi rahasia dan masih belum dapat terungkap. Entah hingga kapan. Namun sepertinya aku akan membagikan rahasia ini pada murid ajaran baru nanti saat Ospek…

Inspiration: My Dream :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar